(Staff Kantor) Ngangsu Banyu

Hm…kali ini tulisan saya adalah curahan isi hati alias curhat kondisi Air bersih di Kantor. Sudah seminggu ini Air bersih tidak mengalir di Toilet KAntor, OB mau nyuci gelas..ngungsi dulu, mau wudlu ngungsi dulu, bahkan kalau mau buang air juga ngungsi ke kantor sebelah.

 bj-016.jpg

Sudah melakukan pelaporan berulang kali, tetapi tidak ada tindakan dari pihak yang seharusnya berwenang menangani, dan pagi ini 3 staff (termasuk aku) “harus berolahraga” dengan me_ngangsu_ air dari ruang Perpustakaan….

Lumayan lah mengisi 2 bak mandi menggunakan 3 ember plasti dan 1 galon air mineral…

KENAPA LAMBAT SEKALI RESPON dari yang harusnya bertanggungjawab…….

Add comment June 1st, 2010

Wanita Memang Susah dibuat “BAHAGIA”

`Jika dikatakan cantik dikira menggoda, jika dibilang jelek di sangka menghina.

`Bila dibilang lemah dia protes, bila dibilang perkasa dia nangis .

`Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak (sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)

Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut (sambil ngomel,Egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan)

`Jika di tanyakan siapa yang paling di banggakan, kebanyakan bilang Ibunya , tapi kenapa ya ….. lebih bangga jadi wanita karir, padahal ibunya adalah ibu rumah tangga

`Bila kesalahannya diingatkankan, mukanya merah..bila di ajari mukanya merah, bila di sanjung mukanya merah, jika marah mukanya merah, kok sama semua ? bingung !!

`Di tanya ya atau tidak, jawabnya diam; ditanya tidak atau ya, jawabnya diam;ditanya ya atau ya, jawabnya :diam,ditanya tidak atau tidak, jawabnya ; diam, ketika didiamkan malah marah ( kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya).

`Di bilang ceriwis marah,dibilang berisik ngambek ,dibilang banyak mulut tersinggung, tapi kalau dibilang supel wadow seneng banget..padahal sama saja maksudnya.`

Dibilang gemuk engga senang padahal maksud kita sehat gitu lho dibilang kurus malah senang padahal maksud kita “kenapa elo jadi begini !!!”

`Itulah WANITA makin kita bingung makin senang DIA

 

!thanks @rend168

 

Mungkin yang bikin puisi ini sudah berkali-kali gagal dalam hal percintaan walah!

 

dari http://beritaku.webkios.info/wanita-memang-susah-dibuat-bahagia/

2 comments May 12th, 2010

Penemu Asal Indonesia

Jika selama ini kita hanya tahu tentang penemuan-penemuan hebat di segala bidang oleh orang asing, berikut ini saya tuliskan penemu-penemu asli Indonesia yang pemenuannya tak kalah bermanfaat dengan yang telah ada. Maka berbanggalah menjadi (bangsa) indonesia.

  1. Abdul Jamil Ridho & Niti Soedigdo – Penemu Varietas Unggul Singkong Raksasa
  2. Adi Rahman Adiwoso – Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
  3. Alexander Kawilarang – Penemu Kapal Ikan Bersirip
  4. Andrias Wiji Setio Pamuji – Penemu Reaktor Biogas
  5. Arief Mulyana Djumra – Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
  6. Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB – Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
  7. Ayub S. Parnata – Penemu Bakteri Kompos Organik
  8. Bacharuddin Jusuf Habibie – Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
  9. Budi Noviantoro – Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
  10. 10. Dani Hilman Natawijaya – Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) terhadap Siklus Gempa
  11. Djuanda Suraatmadja – Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan
  12. Eddyman, Intan Elfarini & Kanaka Sundhoro – Penemu Obat Antinyamuk Alami dan Murah
  13. Evvy Kartini – Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas
  14. Fuad Affandi – Penemu Pupuk Alami dari Air Liur
  15. Herman Johannes – Penemu Tungku Berbahan Bakar Briket Arang Kayu dan Dedaunan
  16. I Gede Ngurah Wididana – Penemu Formula Minyak Oles Bokhasi
  17. I Made Budi – Penemu Formula Sari Buah Merah untuk Pengobatan
  18. Lalu Selamat Martadinata – Penemu Alat Pemanggil Ikan
  19.  M. Djoko Srihono – Penemu Penjernih Air Limbah
  20.  Maruni Wiwin Diarti – Penemu Senyawa Antimikroba dari Rumput Laut
  21. Minto – Penemu Kompor dan Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
  22. Mumu Sutisna – Penemu Hormon Penyubur Anakan Padi
  23. Mulyoto Pangestu – Penemu Teknik Ekonomis Pembekuan Sperma
  24. Neny Nurainy – Penemu Varian Virus Hepatitis B Indonesia
  25. Puji Slamet Arif – Penemu Motor Listrik Hemat Energi
  26. Rahmiana Zein – Penemu Teknik Pemisahan Cairan dalam Kecepatan Tinggi
  27. Randall Hartolaksono – Penemu Formula Kimia Pemadam Api Ramah Lingkungan
  28. Rizal & Juffri Sahroni – Penemu Penghemat Bahan Bakar Diesel
  29. Robert Manurung – Penemu Minyak Jarak Murni
  30. Saverinus Nurak – Penemu Mesin Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
  31. Sutjipto & Ryantori – Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba
  32. Sutrisno – Penemu Alat Perangkap Lalat Buah
  33. Sedijatmo – Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam
  34. Septinus George Saa – Penemu Rumus Penghitung antara Dua Titik Rangkaian Resistor
  35. Sofin Hadi – Penemu Metode Cincin untuk Sunat Tanpa Luka
  36. Sri Wuryani, Mustadjab, Euis M. Nirmala, Siwi Hardiastuti – Penemu Pengawet Aroma dalam Hampa
  37. Tjokorda Raka Sukawati – Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu
  38. Warsimin Adiwarsito – Penemu Marmer Buatan
  39. Widowati Siswomihardjo – Penemu Bahan Baru untuk Gigi Palsu yang Lebih Aman dan Murah
  40. Windu Hernowo – Penemu Penghemat Bahan Bakar Mesin
  41. Yanto Lunardi Iskandar – Anggota Tim Penemu HIV & Metode Peningkatan Hematopoiesis
  42. Yudi Utomo Imardjoko – Penemu Kontainer Limbah Nuklir
  43. Zahlul Badaruddin – Penemu Zahlul Integrated Unit (Desain Sistem Efisien untuk Produksi Obat/Kimia)

Mengenai siapa-siapa mereka, googling saja deh…..

Add comment May 12th, 2010

Kelebihan dalam Keterbatasan

Dua perempuan muda ini adalah penyandang tuna rungu dari SLB Wlingi Blitar, mereka sedang dikarantina selama satu minggu di rumah salah satu gurunya. Dikarantina? berpenyakitkah? Berbahayakah?

1.jpg

Bukaaaaan, bukan itu penyebabnya, mereka sedang digembleng di kawah candradimuka menjelang lomba antar SLB se JATIM. Atis (23) adalah pelukis tuna rungu yang handal, dia saat ini duduk di kelas 1 SMA-LB wlingi Blitar.  Lukisannya penuh warna, kebanyakan bertema sosial, pertunjukkan kesenian Jaranan yang dipenuhi penonton dalah salah satunya. Satu lagi adalah Puput, calon juara Matematika ini masih duduk di kelas 1 SMP-LB Wlingi, selain jago matematika dia juga piawai dalam melukis. Kita doakan mereka dapat meraih cita-cita meski dalam keterbatasan.

29992_1416167654474_1541081305_1036298_4972834_n.jpg29992_1416167734476_1541081305_1036299_2193002_n.jpg

Add comment May 12th, 2010

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah

Artikel di bawah ini ditulis dan diterbitkan tahun lalu, dan masih layak dibaca pada saat ini, tanggal 21 April 2010, sebagai refleksi ulang fakta sejarah. ———— —–

Written by Adian HusainiAda yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”.  Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda  untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle.  Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam  sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP).  Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan  Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun,  pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakap an maupun tindakan-tindakan mereka.”Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh,  kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu?  Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas.  “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,”  begitu kata Rohana Kudus.Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonial is Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”.  Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi.  Dalam bukunya,  Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985),  Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.[Depok, 20 April 2009/www.hidayatullah. com]

Add comment April 22nd, 2010

Sejarah kata “JANCOK”

Kenapa aku nulis ini? karena aku sedang pingin ngomong JANCOK KOEN ke seseorang, tapi ga kesampean…ngene critane…. Jancok berasal dari kata ‘encuk’ yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris. Berasal dari frase ‘di-encuk’ menjadi ‘diancok’ lalu ‘dancok’ hingga akhirnya menjadi kata ‘jancok’. Ada banyak varian kata jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput, diampot, diancok, mbokne ancuk (=motherfucker), jangkrik, jambu, jancik, hancurit, hancik, hancuk, hancok, dll. Kata jangkrik, jambu adalah salah satu contoh bentuk kata yang lebih halus dari kata jancok. Makna asli kata tersebut sesuai dengan asal katanya yakni ‘encuk’ lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat seseorang.Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian) arek-arek Suroboyo.Kata-kata ini bila digunakan dalam situasi penuh keakraban, akan menjadi pengganti kata panggil atau kata ganti orang. Misalnya, “Yo’opo kabarmu, cuk”, “Jancok sik urip ae koen, cuk?”. Serta orang yang diajak bicara tersebut seharusnya tidak marah, karena percakapan tersebut diselingi dengan canda tawa penuh keakraban dan berjabat tangan dong… Hehehehe….Kata jancok juga bisa menjadi kata penegasan keheranan atau komentar terhadap satu hal. Misalnya “Jancok! Ayune arek iku, cuk!”, “Jancuk ayune, rek!”, “Jancuk eleke, rek”, dll. Kalimat tersebut cocok dipakai bila melihat sesosok wanita cantik yang tiba-tiba melintas dihadapan. Hehe…Akhiran ‘cok’ atau ‘cuk’ bisa menjadi kata seru dan kata sambung bila penuturnya kerap menggunakan kata jancok dalam kehidupan sehari-hari. “Wis mangan tah cuk. Iyo cuk, aku kaet wingi lak durung mangan yo cuk. Luwe cuk.”. Atau “Jancuk, maine Arsenal mambengi uelek cuk. Pemaine kartu merah siji cuk.”wis ya Cuk, sakmene ae critane, ngantuk mataku Cuk!

Add comment April 20th, 2010

“Penemu” Indonesia

Banyak sekali ilmuwan barat yang memberikan penamaan terhadap Kepulauan Nusantara ini….Beberapa di antaranya adalah: George Samuel Windsor Earl, James Richardson Logan Adolf Bastian. Namun saya hanya akan membahas 2 nama yaitu: James R. Logan Adolf Bastian. Untuk yang pertama, yaitu: James Richardson Logan. Dia  adalah ahli hukum kelahiran Skotlandia dari Universitas Edinburgh. Pada tahun 1843-1853, saat menetap di Singapura, di samping sebagai pengacara, dia juga membuat serangkaian catatan mengenai Kepulauan India dan Asia Timur. Hasilnya diterbitkan adlam sebuah jurnal, yaitu: “The Journal of the Indian Archipel and Eastern India” yang dikerjakan pada tahun 1847 dan muncul sampai 1863. Pada tahun 1850, dalam jurnal tersebut selain memuat tulisan  George Samuel Windsor Earl, Logan  juga menulis artikel yang berjudul: “The Ethnology of the Indian Archipelago”. Ia lebih setuju nama “Indunesia” ciptaan Earl, tetapi huruf “U” diganti dengan huruf “O” agar ucapannya lebih baik. Sehingga muncul nama “INDONESIA” yang menurut Logan dibentuk dari 2 kata, yaitu: “India” (=selatan) dana “nesia” (=kepulauan). Paduan kata “India”-”nesia” menimbulkan perubahan “india” menjadi “indo” menurut aturan sandi dalam ilmu bahasa

 

Logan juga menyatakan : “Untuk nama “indian Archipelago” sebagai ajektif atau bentuk etnografis, Earl menganjurkan memakai istilah etnografis “Indunesians” dan menolak “Melayunesian”…Saya sendiri lebih suka semata-mata sebagai istilah sebagai istilah geografi. “Indonesia” merupakan sinonim terdekat dengan “Indian Island” atau “indian Archipelago”. Kita akhirnya menerima “Indonesian” sebagai “Indian Archipelago” dan “Archipelagic” serta “Indonesians” sebagai “Indian Archipelaians” dan “Indian Islanders”.

 

Orang kedua yang turut mempopulerkan istilah Indonesia adalah Adolf Bastian. Ia adalah ahli etnologi dari Jerman. Salah satu bukunya, yaitu: “Indonesia order die Inseldens Malayischen Archipel”, menceritakan perjalanannya ke Indonesia selama tahun 1884-1850. Di dalam buku itu banyak sekali pemakaian istilah “Indonesia” dan beredar luas di Belanda. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa yang menjadi pelopor pemakaian  nama “Indonesia” adalah Adolf Bastian. Tentu saja, Bastian tidak bisa dianggap sebagai pencipta atau penemu istilah “Indonesia” karena ia baru memakainya pada tahun 1884. Apalagi dalam bukunya “Reisen im Indischen Archipel” (!869), ia sendiri menyebutkan kalau JR Logan sebagai penemu istilah “Indonesia”. Meski begitu, Bastian yang telah mempopulerkan “Indonesia” di jerman dan Belanda. Melalui karyanya juga, karya para guru besar di universitas Belanda terutama van Vollenhoven, RA kern, Snouck Hurgronje, dan sebagainya yang menyebabkan pemakaian istilah ” Indonesie”, “Indonesisch” dan “Indonesier” makin tersebar luas.

 

Kita mengakui bahwa nama “Indonesia” adalah hasil ciptaan orang asing dan berbau “nama asing”. Tapi bangsa kita sudah mengenalnya bahkan “mencintainya” sejak zaman pergerakan kemerdekaan. Hal ini karena dalam istilah tersebut mengandung rasa kesatuan bangsa, tuntutan kemerdekaan, dan cita-cita nama negara yang merdeka. Mohammad Hatta (Bung Hatta), seorang tokoh yang gigih mempertahankan nama ” Indonesia” dalam sebuah artikelnya menyatakan menegaskan bahwa: “Bagi kami  Indonesia menyatkan tujuan politik karena melambangkan dan mencita-citakan suatu atnah air masa depan dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia akan berusaha dengan tenaga dan kemampuannya”. Sekarang ini bagi kita yang sedang mengisi kemerdekaan negeri tercinta ini adalah melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai warga negara untuk memberikan makna terhadap nama Indonesia.  Menurut saya, mempermasalhkan nama “Indonesai” adalah tidak penting dan sangat tidak perlu. Hal yang terpenting adalah mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Dirgahayu Republik Indonesai tercinta!!!!!

 

Sumber : http://indonesiancommunity.multiply.com/journal/item/2620

Add comment April 12th, 2010

Odol yang Pepsodent!

Pasta gigi adalah sejenis pasta yang digunakan untuk membersihkan gigi, biasanya dengan sikat gigi. Di Indonesia, pasta gigi sering juga disebut Odol, yaitu salah satu merek pasta gigi. Walaupun merek ini sudah berpuluh-puluh tahun tidak lagi dijual di Indonesia, nama Odoltelah menjadi nama generik. Odol pertama kali diproduksi di Jerman oleh Dresden chemical laboratory Lingner, yang sekarang dikenal sebagai Lingner Werke AG pada tahun 1892 sebagai cairan pencuci mulut/mouthwash. Odol moutwash pada tahun 1900 an adalah merk ternama dan yang paling luas penggunaannya di hampir seluruh daratan Eropa

.iklan odol jaman dulu

Dari kecil kita selalu mendengar dari orang” tua “Sikat gigi yang bersih, pake odol ya”. Kalo kita berbelanja ke toko “beli odol yang pepsodent”. Adalah Karl August Lingner yang pertama menciptakan Odol moutwash dan dia adalah orang yang giat mengkampanyekan Hidup Higienis. Dia juga dikenal sebagai orang pertama yang mengadakan International Hygiene Exhibition pada tahun 1911. Dia mendirikan musium The German Hygyene Museum di Dresden.Ternyata ODOL bukan yang pertama sebagai merk yang memproduksi massal,Pasta Gigi pertama yang diproduksi masal hampir 90 tahun sebelum Merk ODOL lahir.Sejarah pasta gigi dimulai sejak 5000 tahun yang lalu lewat peradaban Mesir Kuno. Ketika itu masyarakat Mesir Kuno membuat pasta gigi dengan bahan terbuat dari campuran kuku lembu jantan yang dihancurkan, tepung, batu apung dan debu dari cangkang telur yang telah dibakar. Saat itu sikat gigi juga belum ditemukan, jadi membersihkan gigi pun dengan menggunakan jari-jari tangan.Sementara menurut naskah kuno dari Persia, sekitar 1000 tahun lalu masyarakat mulai menambahkan bahan-bahan alami yang berasal dari tumbuhan untuk membuat pasta gigi bubuk.Penggunaan pasta gigi krim seperti yang sekarang kita gunakan baru ditemukan pada abad ke-19. Perusahaan Colgate yang ada di Amerika Serikat adalah perusahaan pertama yang memproduksi pasta gigi bentuk ini, lebih tepatnya oleh seorang William Colgate 1806.Colgate.com

Add comment April 9th, 2010

ada kandungan babi dalam rokok? wah!

VIVAnews - Seorang peneliti di Australia melansir penelitian mengenai rokok yang diduga mengandung darah babi. Kandungan babi yang diharamkan umat Islam ini ditemukan di filter rokok.Profesor di bidang Kesehatan Publik, Universitas Sydney, Simon Chapman, menunjuk pada riset terbaru yang mengidentifikasi 185 penggunaan hemoglobin atau bagian darah babi, termasuk dalam pembuatan filter rokok. Penemuan ini, kata Chapman kepada News.com.au, bisa berdampak pada kelompok Islam dan Yahudi.”Komunitas Yahudi jelas akan menilai masalah ini sangat serius dan komunitas Islam akan menilainya sangat mengganggu,” kata Chapman, Rabu 31 Maret 2010.Penemuan ini, kata Chapman, membuka bobrok industri rokok yang tidak diwajibkan mencantumkan komposisi dalam rokok. “Mereka mengatakan, “ini bisnis kami dan sebuah rahasia dagang”.”Darah babi ini, kata Chapman, setidaknya ditemukan di satu mereka rokok dijual di Yunani. Darah babi dipastikan dipakai dalam pembuatan rokoknya.Sebuah riset di Belanda menemukan darah babi ini dipakai untuk membuat filter lebih efektif menangkap kimia berbahaya sebelum asap masuk ke tenggorokan. Artinya, temuan ini jelas tak berlaku untuk rokok yang tidak menggunakan filter.

Add comment March 31st, 2010

UI Menduduki Peringkat 50 Besar Asia

UI Menduduki Peringkat 50 Besar Asia Logo UI/SENIN, 25 MEI 2009 | 15:22 WIB DEPOK, KOMPAS.com — Lembaga pemeringkat universitas dunia, Times Higher Education (THES), mengumumkan, Universitas Indonesia (UI) menduduki peringkat ke-50 besar di Asia, sedangkan Universitas Gajah Mada (UGM) peringkat ke-63 Asia dan Institut Teknologi Bandung (ITB) peringkat ke-80 Asia. Wakil Kepala Humas UI Devie Rahmawati di Depok, Senin (25/5), mengatakan, posisi ini menempatkan UI unggul di atas universitas-universitas dalam negeri, tetapi berada di bawah beberapa universitas negara Asia lain, seperti Keio University, Jepang (ke-19); University of the Philippines (ke-22); Osaka University (ke-24); dan Shanghai Jiao Tong University (ke-32). Sejumlah universitas lain yang peringkatnya dibawah UI, yaitu Pusan University, Korsel (ke-58); University of Delhi (ke-60); Tokyo University of Science (ke-67); dan Tokyo University of Agriculture and Tech (ke-93). Menurut dia, saat ini tercatat ada 29 metodologi pemeringkatan universitas, tetapi hanya ada tiga pemeringkatan yang memiliki reputasi internasional, yaitu Times Higher Education (THES), Sanghai Jiao Tong University, dan Webometrics. Ia menjelaskan, melalui pemeringkatan, setiap universitas akan memiliki panduan obyektif untuk memetakan keunggulan dan kelemahan antar-PT di seluruh dunia. Hal ini dimungkinkan karena peningkatan prestasi setiap tahun hanya dapat dilakukan bila secara konsisten memenuhi kriteria-kriteria penilaian. THES sendiri dalam melakukan evaluasi prestasi universitas di Asia menggunakan sembilan indikator, yaitu mengukur kualitas penelitian (academic per review) lewat survei di kalangan akademik dengan pembobotan senilai 30 persen. Kedua, rasio staf pengajar dan mahasiswanya (student faculty ratio) dengan bobot 20 persen. Ketiga, citations per paper, yaitu seberapa banyak penelitian universitas terkait dikutip (bobot 15 persen). Keempat, employer review, sebuah survei untuk menguak informasi tentang kesiapan kerja lulusan (bobot 10 persen). Kelima, papers per faculty (15persen). Keenam, inbound exchange students (2,5 persen). Ketujuh, outbound exchange students (2,5 persen). Kedelapan, international students (2,5 persen) dan kesembilan, international faculty(2,5 persen). Selain itu, juga terdapat lima bidang akademik yang menjadi subyek penilaian, yaitu arts dan humanitiesengineeringdan IT, life sciences dan biomedicinenatural sciences, serta social sciences. Saat ini UI berada di peringkat 18 besar Asia untuk kategori social sciences.

Add comment May 25th, 2009

Previous Posts